D.I.E.T, Be Your Self New

ba

“Mau makan aja ribet. Nikmatin hidup aja. Nggak usah mikir takut gendut.”

Iya, dulu aku penganut paham ini di garis depan. Sekarang? Aku nggak mau nyalahin orang yang berpendapat menikmati hidup dengan orientasi tak takut makan, sih. Tapi kalau boleh sedikit berkicau subjektif, aku mulai menggeser prinsip ini pelan-pelan dalam rangka mencoba memperbaiki diri. Lebih sering orang-orang sekitar menilaiku begitu freak karena setiap tawaran jajan kudu dibarengi ritualku nengok bungkus belakang; mastiin nilai energinya mencapai berapa kilo kalori. Actually, itu bukan berarti nggak doyan jajan kalori tinggi, hanya untuk estimasi, kebutuhan kalori sehariku sudah seberapa. Enggak bisa presisi juga sih, cuman main kira-kira aja.

Dulu, sebelum puber, tubuhku seperti terhambat tumbuh. Lahir premature, kurus, pendek, kalahan, kecil hati, la la la, bla bla bla. Sebutan angkrek, usus lurus dan sebagainya dilekatkan padaku sebagai simbol postur tubuh yang seolah di bawah rata-rata. Sedih udah pasti. Pun aku bertekad untuk bisa ‘menjadi normal’ supaya jauh dari celaan. Dalam progress lambat ini, setelah melalui masa puber, pertumbuhan ke arah samping justru terlanjur kelewat batas normal. Aku berhasil menggendud, pemirsa! Nyesel? Agak sih, tapi enjoy aja. Yang penting bahagia. Tapi setahun belakangan aku panik karena baju ukuran XL ku mulai terasa kekecilan dan kurang nyaman. Bayangan rempong cari ukuran baju pun menghantui. Sementara kesempatan berolah raga sangat terbuka untukku. Mulai dari badminton tiap Rabu dan Jumat yang difasilitasi kantor. Raket disediakan. Sepatu dibelikan. Bukan sepatu yang mahal, tapi syukur alhamdulillah memenuhi standard. Tinggal mau berangkat aja. Dan berenang yang kadang boleh minta kasih-kasihan free pass dari pengelola kolam Royal Clubhouse. Jadi mau berkelit apalagi? Aku pun bertekad nggak lagi main-main lipsync di lapangan badminton. Berenang mulai diseriusin. Satu kali sesi berenang harus bisa menempuh jarak 1 km. Bukan berenang yang berpacu dengan waktu, hanya bergerak santai serileks mungkin.

Diam-diam aku men-download tips para pelaku Food Combining yang setiap pagi mengkonsumsi jeruk nipis peras untuk mengawali asupan hari. Perlu digarisbawahi, jeniper (jeruk nipis peras) bukan piranti yang melunturkan lemak demikian saktinya, tapi disamping membantu mengikis lemak (yang diimbangi dengan olahraga), manfaatnya cukup istimewa. Karena kandungan vitamin Cnya yang tinggi, jeniper mampu menjadi pertahanan tubuh terhadap penyakit. Aku mulai peduli dengan pola makanku yang sebelumnya teramat sangat sembarangan dan nggak dipikir matang. Hari ini makan bebek goreng, besok pagi sudah pecel empal, malemnya nasi goreng. Belum lagi ajakan ‘nyangkruk’ yang seolah mewajibkanku untuk mengkonsumsi minuman bergula. Semakin menumpuk nilai gizi berlebih saja. Aku merevisi pola makanku, sebagai contoh, makan bebek goreng masih terlalu sayang buat ditinggalkan, tapi minimal jeda satu minggu baru boleh makan lagi. Itupun dengan mengurangi porsi nasi. Meminimalisir gorengan dan lebih banyak konsumsi buah. Sebenarnya lebih suka mengganti menu makan siang dengan sayuran hijau berlimpah, sayangnya aku jarang ketemu warung yang mau ngasih jual sayur tanpa nasinya. Dan karena memasak sendiri masih kurang efektif untuk hidup anak kost, paling banter aku hanya mengkombinasi makan siangku dengan menu siomay, gado-gado, atau baso supaya tidak melulu ketemu sama nasi.

Proses pola makanku tidak berubah secara drastis. Awalnya hanya mengurangi nasi, beberapa bulan kemudian meningkat. Pun sampai detik ini, belum bisa dibilang pola makanku sudah benar. Tapi setidaknya sudah lebih terpola dibandingkan sebelumnya. Lagi-lagi aku mengikuti para pelaku Food Combining yang menyarankan buah untuk sarapan. Apa yang menjadi menu sarapan esok pagi sudah mulai dipikirkan dari sehari sebelumnya. Dan ternyata ketika niat dan tekad kita sudah bulat, selalu ada jalan terbuka. Pedagang buah bertebaran sepanjang perjalanan menuju kantor memudahkanku untuk berbelanja secara ekonomis. Dan bahkan pilihan buahnya bisa variatif menyesuaikan musim. Dari buah naga, manggis, salak, apel malang, alpukat, pepaya california, duku palembang, rambutan binjai, hingga srikaya. Atau rajin-rajin ngecek harga buah di supermarket lantai dasar satu gedung dengan kantor barangkali ada promo. Aku juga mulai seneng baca-baca artikel tentang kesehatan, tentang asupan makanan, tentang kandungan gizi apapun yang aku makan. Setidaknya, disamping meningkatkan kualitas hidup, sikap ‘kepo’ ini menguntungkanku meng-upgrade pengetahuan.

Dan sekarang, setelah sekitar satu tahun menjalani pola makan lebih baik (meski belum bener), dan istiqomah berolahraga takjemu-jemu, berat badanku berhasil turun lebih dari 15 kilogram. Anggap saja aku memulai diet di berat 65 kg (menimbang setelah satu dua bulan intensif berenang), sementara sekarang sudah berani ngeklaim punya berat 49 kg. Masih optimis punya cita-cita buat nurunin 2-3 kilo lagi (meski beberapa orang bilang berat badanku sudah ideal). Insya Allah ke depannya nggak akan bosen olahraga dan nggak boleh kebanyakan khilaf makan. Bukan melulu tentang penampilan fisik, tapi lebih karena berfikir sayang terhadap kesehatan diri sendiri. Bentuk rasa syukur itu termasuk menjaga apa yang diberikan Allah kepada kita, yes? Kalau bonusnya jadi lebih pantas dilihat dan (sedikit) menginspirasi orang-orang di sekitar kita, manfaatnya mengalir untuk diri kita juga dong ya? So, mantepin niat, tetap lempeng meyakini diet yang dijalankan, Nggak perlu malu dan tertekan melakukan diet apalagi mesti ngeladenin cibiran tetangga. Sabar dan disiplin sama diri sendiri.  Karena setiap usaha pasti menuai hasil sesuai porsinya.

[curhatan] seorang [banci kolam]

swim

Sebenernya udah lama pengen ngeshare perasaan excited karena bisa berenang, tapi takutnya jadi nggak baik karena khawatir penilaian orang nggak selalu sama, takut dibilang pamer atau berlebihan. Yang lebih atlet juga segambreng kan, yes? Tapi karena dorongan niat berbagi dan permintaan khusus dari si Mak Cik, jadilah saya minjem toa musholla tetangga secara semena-mena buat koar-koarin di mari. Namanya reportase bebas-bebas aja dong kalok nantinya terlalu subyektif? Tapi semoga sih bisa menuai manfaat meskipun sedikit dan dijauhkan dari mudharat. Aamiin.

Iya, umur saya udah terti samting gitu dan masih ngerasa ajaib waktu tiba-tiba saya bisa berenang, setelah desperado puluhan tahun yang cuman bisa kungkum doang kalok mesti nyemplung kolem. Atau norak minta pura-pura dijeburin, padahal mah emang pengen keceh main air. Nyobain snorkling udah beberapa kali. Modal nekat aja sih, toh ada pelampung ini. Tapi selalu menatap iri setiap melihat temen yang jago berenang bisa lebih explore-able pas snorkling-an (maaf bahasanya rodok maksa, tapi cukup mudah dicerna, yes?)

Dan ketika kesempatan bisa sering nyemplung kolam itu datang, saya pun bertekad untuk bisa survive di air, apapun gayanya. Gaya unyu sekalipun. Sempet sambatan sama temen kos yang sudah malang melintang menjadi guru les berenang.

“Ndak usah bayar les sama aku, bayarin tiket masuk kolam aja udah cukup. “ Katanya. Saya sudah cukup bersuka cita waktu itu.

“2x pertemuan sama aku, kayaknya udah cukup untuk bisa berenang.” imbuhnya ketika saya infokan kalau sebenernya saya sudah lama bisa mengambang, cuman ndak bisa ambil nafas.

Belum terlaksana kami ke kolam bersama, si teman udah kadung pindah kos. Tapi kata-kata ajaib “dua kali” pertemuan ini menginspirasi dan terngiang-ngiang di telinga. Kesempatan nyemplung kolam selanjutnya, saya bertekad untuk harus bisa naik kelas dari kemampuan sebelumnya. Saya paksakan kepala bisa terangkat dari air, mencoba menemukan ritme dengan pergerakan tubuh yang lain. Awalnya saya belum berani menghirup udara, masih mencoba menahan nafas meskipun kepala mulai sedikit terangkat, setidaknya mulut bisa berada di atas permukaan air (saya mencoba bergerak dengan gaya dada/ gaya katak yang konon menurut teman kos adalah yang paling memungkinkan untuk diajarkan pada orang yang sudah melewati masa pertumbuhan *beraaaattss bingits ngetik beginian*, entah bener entah enggak pergerakan saya dicompare sama default gayanya). Gerakan tubuh kita di air mengandalkan kayuhan tangan dan jejakan kaki yang meregangkan tubuh ke belakang hingga menciptakan laju ke depan. Rasanya sangat berat, tapi lama-lama saya menemukan celah bahwa justru air yang membantu mengangkat tubuh kita ketika gerakan kayuhan tangan mendorong air ke belakang. Pun saya mulai berani mencoba mengambil nafas, meski tak jarang air masuk hidung. Namanya main air kan, ya? Kalau mainnya hati beda lagi *abaikan.

Pelan-pelan, saya mulai berani melintasi jarak beberapa kayuhan tangan, tentu saja masih diimbangi dengan nafas yang megap-megap. Saya mulai menantang diri untuk berani melalui jarak sekitar 10 meter dengan nafas yang tetap megap-megap dan detak jantung yang lebih kencang. Tapi saya berhasil. Tantangan pun mulai meningkat kalau sebelumnya saya berhasil melintas lebar kolam, kini saya berhasil melalui lintasan kolam terpanjang. Mungkin buat orang lain bukan hal istimewa, buat saya sendiri sudah terasa sangat berprestasi. Bolak-balik lintasan terpanjang dan selalu berhenti untuk bernafas ketika mencapai tepian. Awalnya hanya 5 kali lintasan bolak-balik setiap kali berenang. Selanjutnya meningkat menjadi 10 kali lintasan bolak-balik. Sekarang mau berputar berapa kali juga saya jabanin dan sudah ndak megap-megap lagi. Dulu ketika hanya bisa pegangan pinggiran kolam, melihat orang yang mampu berenang ndak berenti-berenti, hanya bisa berfikir “mungkin, sampek elek, sampek tuwek, saya ndak bisa kayak gitu”. Heeyyy..! ternyata saya berhasil meruntuhkannya!

Kolam Royal Clubhouse yang biasa saya jajah kebetulan bukan berbentuk persegi dengan ukuran standard pertandingan, tetapi berbentuk kurva melengkung. Dan karena kebetulan bisa ngintipin gambar kerjanya, saya bisa tahu kalau keliling kolam bisa mencapai jarak 62 koma sekian meter. Anggap saja 50 meter karena kita muterinnya berada di dalam panjang keliling. Satu sesi kesempatan berenang, sekarang saya cukup kuat untuk menempuh 20x putaran, itu berarti tidak kurang dari 1 km. Asal jangan tantang saya untuk adu cepat, kalau sekedar bertahan dalam lintasan 250 m – 500 meter saya berani berlomba. Lebih dari itu, berenang ternyata membuat saya cukup kuat bertahan untuk berlari. Lagi-lagi tidak untuk adu cepat, cukup konstan di kecepatan 6-8 km/jam, saya mampu berlari selama setengah jam tanpa berhenti. Iya, sekarang saya jadi kecanduan olah raga. Asyik banget, bikin badan fresh dan perasaan senang terus.

Jeda melalui lintasan biasanya saya pakai untuk sedikit bersantai dan beristirahat. Tidur mengambang di atas air menjadi sesi favorit sekaligus relaksasi. Coba Surabaya tanpa polusi cahaya, pasti taburan bintang menjadi pelengkap tiada tara. Yakin aja, tubuh kita punya daya apung, yang membuat air menjadi lebih berat dari berat jenis tubuh manusia. Ada baiknya mengobati fobia terhadap air dengan mengubah mindset, bahwa air sudah terbukti menjadi media yang banyak digunakan sebagai sarana terapi. Munculnya istilah Spa (Solus Per Aqua; sehat dengan air) juga karena media basicnya adalah air. Bahwa manusia diberi akal dan kemampuan untuk bertahan dalam kondisi sempit (anggap saja kondisi sempit di sini adalah sempit menghirup oksigen karena harus bergerak di dalam air). Tidak perlu pedulikan gayamu sudah benar atau belum, yang penting kita mampu bergerak nyaman di dalam air kan, yes? Jadi, siapa mau ikutan baris jadi banci kolem di belakang saya?

[7wonders] Dompu – Sumbawa, Sarat Keindahan Berbalut Sahaja

Labuhan Lombok-Labuhan Kayangan, dermaga di ujung Timur Pulau Lombok NTB bisa menjadi salah satu titik poin apabila memilih menyusuri perjalanan darat/laut menuju Pelabuhan Pototano, dermaga di sisi Barat Pulau Sumbawa, sebagai portal menuju kota Dompu, Nusa Tenggara Barat. Garis pantai yang membentuk lanscape pesisir berupa teluk di sisi kiri jalan dan laut lepas Selat Alas di sisi kanan beserta hiasan warna-warni layar perahu nelayan yang tersebar indah menghias lautan, menjadi pemandangan yang memikat seperti sedang berjalan di antara dua lautan. Temaram senja merangkak di Labuhan Kayangan khidmad menutup hari. Layer-layer daratan Pulau Sumbawa di seberang lautan bersepuh kilau oleh sisa pancaran sang surya yang berpurna tugas. Komposisi yang menjadi salam selamat datang penuh kesan untuk sebuah awal perjalanan.

Sedikit disayangkan jika melintas Pulau Sumbawa di waktu malam. Rasanya mungkin akan lebih spektakuler menikmati pemandangan sepanjang perjalanan bus melewati pesisir utara Sumbawa ketika siang hari, memandang garis lekukan yang membentuk kontur Tambora dari sisi daratan yang terpisah teluk selebar 36 km. Setidaknya, menikmati perjalanan pada malam hari, silhouette khas Tambora begitu mudah dikenali dengan bantuan berkas purnama. Sementara kerlip penerangan perahu nelayan seolah tebaran bintang di permukaan laut yang berwarna pekat.

Tiba di Dompu, kota kecil berkoordinat 08° 30′ LS dan 118° 28′ BT, pagi hari setelah 12 jam perjalanan dari Mataram, Lombok. Beruntung sekali memiliki sahabat-sahabat baru dari Dompu yang begitu ‘lambo ade’ dan berkenan menampungku beserta team. Teman-teman dari Mapastie Yapis Dompu (Mahasiswa Pecinta Alam STIE Yayasan Pendidikan Islam) luar biasa istimewa, hanya berbekal link dari seorang teman yang menyatukan kami dari dunia maya (teman dunia maya dari teman dunia maya yang lain, istilahnya kalau di-multilevel marketing sudah seperti downline ber-downline) cukup membuat tuan rumah begitu antusias menjamu dan mengantarkan teman baru mengunjungi tempat tersembunyi di sudut Desa Ranggo, Kecamatan Pajo. Lambo ade adalah ungkapan menyambut tamu dalam bahasa lokal, kalau di-convert dalam Bahasa Indonesia semacam istilah mempersilakan sepenuh hati dalam kesederhanaan. Intinya, ada timbal balik yang bersahaja antara tuan rumah dan tamu, setidaknya begitulah sejauh pemahamanku.

canga tolu waterfall

canga tolu waterfall

Sebuah air terjun cantik bernama nCanga Tolu, artinya tiga tingkat, jatuh bertahap seperti membentuk anak-anak tangga. Pencapaian yang cukup melelahkan menuju lokasi ini, namun selalu terbayar setelah menikmati segarnya air dan mengagumi pemandangannya. Dari pusat kota Dompu, diantar oleh teman-teman Mapastie Yapis Dompu dengan sepeda motor, menuju ke arah Desa Hu’u. Sesampai di Desa Ranggo, kami menitipkan barisan sepeda motor di halaman rumah penduduk untuk selanjutnya trekking melintas kampung, disambut sederet senyuman lokal dan celoteh riang para bocah. Aku sibuk mempraktekkan sapaan senta’abe atau permisi dalam Bahasa Dompu. Selanjutnya perjalanan akan melewati ladang penduduk, menjumpai kawanan kerbau berkubang, selintas mengagumi view teluk Cempi dari atas ketinggian, melalui hutan hingga akhirnya bertemu keindahan aliran sungai yang berundak sebagai tujuan destinasi.

potensi lokal Dompu, rumah panggung kayu

potensi lokal Dompu, rumah panggung kayu

celoteh riang bocah Dompu

celoteh riang bocah Dompu

Dari Desa Ranggo perjalanan dilanjutkan menuju wilayah administratif Kecamatan Hu’u di sisi selatan Pulau Sumbawa. Beberapa penunjuk arah menuju situs peninggalan peradaban masa lalu banyak tersebar di sepanjang jalan. Pesisir teluk Cempi di Selatan Kabupaten Dompu membentuk garis Pantai Lakey yang terkenal sebagai arena surfing urutan ketiga di dunia setelah Hawai dan G-land (pantai Plengkung, Alas Purwo, Banyuwangi). Pesisir yang panjang dalam lengkung-lengkung garis pantai, hamparan pasir putih yang berwarna kontras dengan biru laut yang bening hingga bergradasi menjadi warna yang lebih gelap karena tingkat kedalaman laut. Sayangnya waktu kunjungan di Pantai Lakey terasa kurang tepat, disamping musim selancar yang masih jauh dari jadwal, langit sore kala itu tampak mendung dan kurang bersahabat. Senja di Pantai Lakey ditutup tanpa atraksi kuning telur emas tenggelam di cakrawala.

lakey beach

lakey beach

Mencicipi buah Kinca dengan cara rujakan adalah suguhan ‘kehormatan’ ala anak-anak muda Dompu. Beberapa menyebutnya sebagai apel Dompu. Rasanya cukup acid sesuai dengan nama ilmiahnya Limonia acidissima. Kuliner Dompu yang cukup khas adalah Nasi bambu atau Timbu, beras ketan yang dibumbu santan dan dimasak dengan cara dibakar di dalam wadah bambu. Cara makannya akan lebih lengkap apabila dilengkapi dengan Dahi, semacam tape ketan hitam yang seolah berperan sebagai saus untuk timbu.
Berjarak tempuh kurang lebih dua jam ke arah timur Dompu, adalah Kota Bima, kota terbesar di Pulau Sumbawa dengan pemandangan sapuan kabut tipis dan awan rendah yang menjilat lautan Teluk Bima di pagi hari. Sebuah tradisi berpakaian yang khas sekaligus sebagai identitas wanita muslim Bima (suku Mbojo) bernama Rimpu, yaitu pemakaian sarung tenun sebagai hijab/ jilbab dengan bentuk yang khas.

buah kinca

buah kinca

Kaldera megah Tambora membentang demikian agung dalam presisi angka tujuh kilometer, sebuah saksi sejarah kedasyatan letusan yang diklaim mematikan pada pertengahan April 1815. Dunia mengakui, asap tebal menutupi langit sampai daratan Eropa mencapai berhari-hari, cuaca buruk di berbagai belahan bumi hingga konon letusan Tambora disebut-sebut mengimbas pada kekalahan pasukan Perancis di bawah pimpinan Jenderal Napoleon Bonaparte ketika bertempur melawan tentara Inggris dan Prussia.

bukit teletubbies lereng tambora

bukit teletubbies lereng tambora

Mendaki Tambora, tentu saja membutuhkan persiapan fisik dan mental yang luar biasa, meskipun ketinggian puncak ‘hanya’ terukur 2850 mdpl setelah ‘terpangkas’ hampir setengah badan gunung pada erupsi terbesarnya kala itu, namun trekking Gunung Tambora yang dimulai pada titik di ketinggian kisaran 400 mdpl terasa cukup menguras waktu dan tenaga. Untuk mendaki Tambora, dari kota Dompu dibutuhkan 4-5 jam perjalanan menuju semenanjung di sisi Utara/ Barat Laut pulau Sumbawa. Uniknya, perjalanan dengan minibus yang berangkat dari terminal Ginte ini begitu mengesankan dan sedikit ekstrim. Karena keterbatasan moda transportasi, pengalaman duduk di atas atap bis menjadi sensasi tersendiri menikmati The Uniquely of Sumbawa; bentang savana yang menghijau karena musim hujan yang mulai merata, berkolaborasi dengan binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing yang seolah ter-convetti di pelupuk mata. Bukit Teletubbies menjadi pelengkap kontur bentang lansekap Pulau sumbawa di kaki Tambora. Sesekali kuda liar yang so iconic bertebaran di rerumputan sepanjang perjalanan, berlatar pemandangan Teluk Saleh, teluk yang diklaim terbesar di pulau ini seolah mendominasi dalam bentang 86 km. Tidak heran, arena pacuan kuda oleh joki-joki cilik di Dompu menjadi atraksi dan potensi lokal yang menarik perhatian untuk memperingati acara-acara tertentu.

kuda liar savana

kuda liar savana

the uniquely of sumbawa

the uniquely of sumbawa

Desa Calabai menjadi pemberhentian terakhir minibus. Dari sini, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menggunakan jasa ojek menuju Desa Pancasila, desa terakhir dimana semuanya dimulai dengan langkah kaki. Rumah Bang Ipul (Saiful) di Desa Pancasila begitu sederhana, di batas sempadan lahannya tersemat sebuah papan informasi bertuliskan “Tambora Trek Centre”. Bang Ipul dipercaya sebagai tokoh yang memegang kendali perizinan pendakian Gunung Tambora.

jelatang

jelatang

Rute panjang dari basecamp pendakian, melalui perkampungan penduduk, perkebunan kopi, pintu rimba, melintas hutan hingga Pos I membutuhkan waktu tiga jam perjalanan, bisa lebih lama apabila kondisi jalur yang terlanjur rapat dan licin karena musim hujan. Serangan pacet mengancam sepanjang jalur pendakian sebelum Pos I hingga selepas pos II, jumlah populasinya benar-benar menguji mental. Sementara ancaman jelatang mulai terlihat selepas Pos III hingga Pos V. Jelatang adalah vegetasi khas yang daunnya berduri tipis, apabila tersentuh kulit terasa sakit menusuk, dengan imbas rasa gatal dan panas berkepanjangan. Halang rintang sepanjang perjalanan pun cukup variatif. Sepanjang jalur hingga Pos V eksisting berupa hutan hujan tropis yang hampir tanpa area terbuka. Setelah pos V, vegetasi cemara gunung mulai mendominasi. Setelah melewati batas vegetasi akan sampai pada bibir kawah yang berupa dataran hampir menyerupai padang pasir.

di atas ketinggian punggung tambora

di atas ketinggian punggung tambora

Puncak selalu menjadi kepuasan tersendiri bagi para pendaki, di samping view di atas ketinggian yang memanjakan mata. Titik tertinggi Tambora menjanjikan bentang alam, menyapu pandang dalam radius 180 derajat dengan ‘Puncak Tetangga’ Dewi Anjani di titik tertinggi Lombok 3726 mdpl pulau seberang, daratan Sumbawa dengan lekukan Teluk saleh, Kaldera Tambora sebagai saksi kedasyatan erupsi berskala 7 dua abad silam termasuk kawah baru di dasarnya yang sesekali mengepulkan panas bumi bernama Doro Afi Toi, pemandangan Pulau Moyo yang terkenal sebagai tempat bulan madu Prince Charles – Lady Diana serta pulau ‘cincin’ Satonda yang konon menciptakan laguna/ danau, laut asin yang ‘terperangkap’ daratan karena tsunami dan erupsi Tambora. Begitulah Dompu dan skala Pulau Sumbawa, menyimpan keindahan, kultur masyarakat yang sarat kesederhanaan serta cerita sejarah yang menggemparkan dunia.

**all photograph capturing by @endah_banged

Team Ibu-ibu PKK Hore dalam Kisah Piknik Pendakian Rinjani [Part II] [dan belum kelar juga]

15 Mei 2012

Pagi kedua nge-camp di Plawangan Sembalun. Semalaman saya tidur panjang dan nyenyaaaak sekali. Kemarin, seturun muncak yang gagal itu, gerimis masih setia menjadi tirai alam. Jadi selepas magrib-isya (fyi, selama ngetrip, jadwal sholat dipadatkan cuman 3x sehari; subuh, dhuhur-ashar, maghrib-isya’) saya puas berguling sleeping bag di dalam tenda. Sekilas sebelum terlelap menyempatkan diri memandang langit penuh bintang, memenuhi hati dengan perasaan bahagia menikmatinya.

Hari ini cuaca cerah ceria, yang pada muncak sepertinya dapet bonus view indah. Ah sudahlah, jangan lagi ngomongin puncak. Kali ini view danau di kejauhan tampak hijau-membiru indah, dikelilingi dinding perbukitan terjal. Puncak Gunung Agung samar terlihat di kejauhan. Ketika terbuai dengan indah pemandangan, saya menuai insiden pagi itu, adalah tertipu timbunan semak yang ternyata di bawahnya mengandung segundukan eek. Sayangnya layer semak penutup ini kurang tahan sehingga si eek pun terinjak dengan sukses di sendal gunung saya yang tercinta (sendal gunung saya sendiri ya, bukan sepatu trekking pinjeman, mohon dicatat). Sumpah saya hampir muntah saking jijiknya. Tapi apa daya, nasi sudah jadi eek #eh. Ah sudahlah, skip saja episode ini.

 

Kami sempat dihebohkan dengan kehadiran rombongan bapak-bapak MTB (MounTain Bike-ers). Kekmana ga berdecak kagum lah, beliau-beliau ini secara usia jelas udah pada senior, tapi urusan bersepedah ekstrim sungguh sangat membuat saya worship seworship worshipnya. Di samping sok-sokan interview tanya sepeda, ini-itu, bagaimana usaha pencapaian menuju titik setinggi ini dengan medan yang sebegitunya, kami (ga cuman sekedar team ibu pkk hore ini loh ya, tapi tetangga-tetanggi sebelah tenda juga heboh dan appreciated gitu) begitu antusias meminjam sepeda-sepeda tersebut sekedar untuk property berfoto. Agak-agak norak, tapi kapan lagi kan yaa bisa ngerasain kekginian, pose ama sepeda puluhan juta di titik ribuan mdpl bok!

 

Lalu satu scene lagi bersama rombongan mas-mas makasar yang baru turun dari puncak. Entah kenapa achie begitu semangat meminta hibahan ikan asin dari rombongan ini (yang diamini para ibu-ibu pkk yang lain). Adhi dan hamzah semangat mengais kail gratis juga untuk memancing di danau nanti. Sepertinya saya melewatkan satu sesi ramah tamah semalam dengan group ini karena terlalu pulas tidur.

 

Pukul delapan (lebih sekian menit entah berapa) kami berkemas, melipat tenda, dan segala macem uborampe property, men-skip acara menjemur barang-barang basah, bersiap turun menuju danau segara anak. Baru hitungan beberapa langkah dari lapak sisa tenda, pemandangan sisi timur pulau lombok membentang tak sanggup berhenti melafalkan kalimat kekaguman. Rute tujuh bukit penyesalan berderet-deret, laut di kejauhan serta Puncak Tambora berdiri gagah di pulau Sumbawa. Tiba-tiba saya mendambakan DSLR dengan lensa zoom buat nge-close up si Tambora ini. Kembali saya dilanda kegalauan dengan keterbatasan pocket yang saya tenteng ini. Sulitnya meng-capture Tambora karena beda level range cahaya yang terlalu jauh dengan objek yang lebih dekat.

 

Setelah dikejar teman-teman untuk ga kelamaan terpana, kami mulai menuruni bukit berbarengan dengan rombongan bapak-bapak MTB. Laju rombongan ini sedikit agak menghambat kami, karena sepeda harus digotong-digendong-diporterin di medan sulit (hampir tidak ada turunan dengan model mendekati ramp, 75% berupa bebatuan hampir menyerupai tangga-jauh-dari-standard-kenyamanan dan tidak jarang ditemui medan curam yang mengharuskan kami pasang posisi sedikit merayap/rock climbing). Bapak-bapak MTB ini begitu bermurah hati memberi kami jalan untuk mendahului. Jalan terjal berbatu menurun ini masih saja terhampar tak kunjung habis. Tetapi setidaknya view memukau masih mengimbangi, menghapus tangis frustasi. Kuncup-kuncup edelweis menghiasi lembah terjal memanjakan mata. Awan putih datang silih berganti, menyapu pandang bagai kapas terbang. Putus asa berkali-kali itu pasti, tapi bagaimana kita menepisnya setiap kali datang, bagaimana perjuangan menguatkan diri dan saling menguatkan teman-teman, selalu menjadi pelajaran tak ternilai harganya.

 

Yang bikin gondok adalah, tiba-tiba sekelebat bayangan haekal menghantui. Ah! Bukan menghantui, dia benar-benar sudah dekat berhasil menyusul kami. Gila ini anak, kalo ga keturunan Brama Kumbara pasti sebelum ke rinjani jampe-jampe dukunnya kuat. Haha! (peace ya haekal, ini cuman seloroh seorang saya yang menatap iri dengan kesaktian orang lain).

 

Masih panjang saja jalur ini. Danau sudah terlihat makin dekat, sudah tidak lagi melalui turunan terjal, tetapi jalan setapak melalui jalur setapak punggung bukit. Dejavu perjalanan menuju ranu kumbolo, Lumayan, beberapa bonus (baca : tanjakan batu) masih mewarnai perjalanan. Eksisting bukit savana khas nusa tenggara masih sedikit mendominasi dengan vegetasi lain yang berukuran lebih besar, cemara gunung, cantigi, dan tumbuhan berdaun jarum lainnya.

 

Kami bertemu dengan wajah-wajah lama yang kemaren berbarengan mendaki. Ada team mas Tege jugak yang memutuskan turun lewat sembalun. Saya sempatkan melempar pertanyaan klise; apakah danau masih jauh, jawaban mereka rata-rata sama “sebentar lagi” tapi tetap saja danau tak kunjung saya temui.

 

Air hujan turun agak galau, gerimis kecil-kecil, hilang, lalu datang lagi. Tapi alhamdulillah menjelang ashar sesampai di danau -setelah medan padang rumput berliku-liku- matahari hangat memancar, sedikit memberi kami kesempatan menjemur baju-baju basah. Tenda didirikan, asap dapur dikepulkan. Hamzah dan adhi pergi memancing ke danau. Saya sudah ribut pengen ke air terjun dan pemandian air panas. Apalagi sudah terlanjur terbuli kata-kata Haekal (yang udah nyebur duluan), konon kabarnya seger banget berendem di air panas.

 

Sudah saya coba untuk trekking sendirian menuju sumber air panas, tapi saya ga punya cukup nyali untuk menyeberang jeram, di bawahnya mengalir air terjun setinggi belasan meter. Jadi saya pun mengurungkan niat, kembali ke tenda, ngerecokin adhi dan hamzah untuk berendam di air panas. dua orang porter kebanggaaan kami yang baru berhasil memancing ikan gedhe-gedhe sebanyak enam ekor dengan umpan 60 rb rupiah (baca : beli ikan dari pemancing danau segara anak).  Saya sudah hampir kedinginan karena dari tadi sengaja ganti kostum baju basah demi niatan bermain air dan berendam.

 

Jelang matahari tenggelam, kami (minus adin, nina dan lia), berangkat menuju sumber air panas rame-rame. Menyeberang sungai di spot jeram (fyi, sungai ini adalah aliran air dari danau segara anak menuju lembah di bawah sana). Aliran air setinggi tulang kering, kami bergandengan tangan bertahan untuk tidak terbawa arus, melewati delta sungai, meloncat batu untuk mencapai seberang. Seru dan memacu adrenalin tentu saja. Medan seperti ini sebenarnya sudah tidak terlalu membuat kami shock dibandingkan jalur plawangan sembalun – danau segara anak. Nikmati aja, jalani aja, mohon kemudahan, itu prinsip yang harus pegang (intinya sieh udah ga ada lagi option balik, jadi the trip must go on).

 

Sebenarnya, posisi sumber air panas ‘hanya’ berada di sebelah jatuhnya air terjun, namun karena tebing yang cukup terjal maka jalur yang ditempuh harus sedikit memutar. Air panas mengandung kadar belerang yang keluar dari dinding tebing sengaja ‘dibendung’ dengan bebatuan sungai untuk membentuk semacam kolam. Sumber air panas ini terus mengalir tidak pernah berhenti, mengalir menganak sungai, bercambur dengan aliran sungai dari danau. Air danau sendiri sebenarnya mengandung kadang belerang, ini terlihat ketika memandang view danau dari arah senaru, terlihat menguning berkumpul di satu sudut danau.

 

belum sampai kami di lembah sungai, orang-orang yang berendam meneriaki kami untuk berbalik. Mereka yang berendam, para lelaki ini, meminta sekedar ‘space’ untuk berpakaian, karena rombongan kami didominasi para wanita. Haha. Sedikit merasa bersalah karena kedatangan kami seolah mengusir para lelaki ini. Tinggal satu orang lelaki yang tersisa (di luar team kami) dan masi nyaman berendam tidak terganggu dengan kehadiran kami. Adhi dan Hamzah tingkahnya udah ugal-ugalan ajah di kolam, salto, kayang atau apalah gitu, macem orang kegirangan. Saya ikot nyemplung di kolam, mencoba menetralisir pegal-pegal kaki. Dian, mbak indri, dan Achie hanya bermain air saja. Mbak indri malah lagaknya macem emaknya anak-anak, pake gosokan mandinya Dian, dengan sekuat tenaga gosokin punggung Adhi macem mandiin kebo.

 

Matahari telah sepenuhnya tenggelam. Kami menyudahi sesi main air ini, menyusuri jalan setapak, menyeberang sungai, kembali ke tenda.

 

Pukul 19.30

kami memulai sesi makan malam dengan melingkari api unggun. Bertindak selaku operator api adalah Adhi. Menu makan malam kala itu cukup mewah untuk ukuran makan di ketinggian 2000 mdpl. Sayur sup, ikan bakar dan es buah yang terdiri dari irisan buah pir, apel, melon dan nutrijel (minus es tentu saja, di sini airnya sudah cukup dingin). Bintang gemerlap menghiasi langit danau segara anak. Sesi makan malam pun berlanjut dengan malam keakraban, haekal dan dion bergabung dengan membawa gitar dion yang fenomenal, memenuhi segala request lagu yang dilempar di tengah arena api unggun. Pak Ebiet G Ade KW I, kenapa dinamai demikian? Sudah pasti jawabannya karena mirip dengan penyanyi tersebut (profil si bapak sempat saya singgung di catper part I). beliau dari team/ tenda tetangga yang ga tahan untuk ga menyuarakan suara emasnya (plus nyumbang camilan juga), menambah keakraban & kehangatan seantero area perkemahan. Ketika saya beranjak mengambil air wudhu ke danau disela-sela acara ramah tamah ini, melewati beberapa tenda (fyi, musim long weekend gini, pendakian ramenya ga nahan, udah macem sunatan masal gituh lah :D, so pasti seantero pelataran danau dipenuhi tenda-tenda pendaki), saya menjumpai hampir di tiap tenda terdengar senandung mengikuti irama lagu yang dimainkan dari arah api unggun kami. Ah seharusnya, alangkah baiknya bila semua pendaki yang nge-camp di danau malam itu berkenan berkumpul mengelilingi api unggun, nyanyi bareng, kenal-kenalan gitu kan ya? (kali-kali ada yang nyangkut. Nyangkut di mana? Di hatimu #abaikan)

 

Malam semakin larut, api unggun meredup, kopi abis, teh abis, jahe anget abis, chicken wing upeti Pak Ebiet G Ade KW I juga udah ludes. Hawa dingin makin menusuk. Saatnya tidur pemirsa, saving energy untuk tanjakan ke senaru esok hari. #ketjupsleepingbag #ketjupstemansebelah #plaaaaaaakkk

Team Ibu-ibu PKK Hore dalam Kisah Piknik Pendakian Rinjani [part I]

Ketika ibu-ibu PKK rempong mendominasi squad kami mendaki gunung setinggi 3726 mdpl #diambangfrustasi. 9 orang dengan formasi 7 wanita 2 lelaki.

ketika keterbatasan perangkat kamera melanda seorang penyuka bidikan view finder addict macem saya, terdampar pada bentang alam seindah gunung rinjani national park… #galau

Ketika berbagai rasa cemas berkecamuk, terhimpit ketakutan, hawa dingin mendera, tertempa lelah luar biasa, medan panjang dan berat masih saja tak henti menghampar di depan mata, mengesampingkan segala kesempitan itu, hanya kepada Allah SWT meminta kekuatan lebih dan lebih dari biasanya.

Ketika selalu ada persaudaraan dan persahabatan luar biasa di tiap pendakian, berikut ini kisahnya #potongpita

Juanda Airport 11 Mei 2012

Belum genap pukul 17.00 saya turun dari Damri angkutan khusus menuju bandara, celingak-celinguk mencari sosok Adinda yang katanya nangkring di A&W bersama Andrian. Nihil. Saya mencoba meng-update dengan mengontaknya. Masih saja missed communication, belum ketemu jugak. sudah mulai terasa berat bolak balik di koridor bandara nenteng keril 32 liter ini, saya putuskan masuk ruang check in. belum sampai ngantri ketika telepon adinda masuk dan mengabarkan ketemu di ruang tunggu kedatangan. saya pun ngeloyor meninggalkan area check in, segera berhaha-hihi bertemu adinda dan andrian, menikmati bika ambon dan bolu meranti, upeti adin dari medan. mega menyusul menemani kami, merelakan diri menjadi team dadah saya dan adin yang akan melakukan perjalanan menuju mataram. saya sampai ternganga menjumpai akal bulus Mega membooking tiket pesawat abal-abal -atas nama mega dan andrian- supaya bisa mengantar kami sampai pintu waiting room, sampai akhirnya kami berpisah ketika mbak-mbak customer service mengumumkan penerbangan kami segera boarding.

penerbangan yang lancar, take off halus, gemerlap view lampu dari atas sana yang indah, landing pesawat yang sempurna di landasan pendek, dan voila! saya menjejakkan kaki di bandara international lombok, praya west nusa tenggara.

setelah antri pengambilan bagasi, saya dan adin masih leha-leha di kursi di dalem airport, menanti rombongan mas tege, temen dian, yang flight dari jakarta, dalam rangka pendakian rinjani jugak, dan sudah janjian jauh-jauh hari akan menemani saya keluar dari BIL ke arah Mataram.

sudah lewat pukul 12 malam ketika rombongan dua mobil berjubel ini meninggalkan kawasan BIL. Membayar sewa mobil per orang dipatok kurang dari harga 25 ribu untuk perjalanan BIL-Mataram (dianter sampai lokasi penginapan). Dari sejak landing tadi kami mencoba mengontak adhi, hamzah dan achie, team kami yang konon sudah sampai duluan mencapai lombok via jalur darat. tapi nihil. belum juga ada jawaban. maksud kami mau bergabung di penginapan mereka untuk koordinasi keperluan pendakian. rasa lelah dan was-was terpaksa saya skip, saya asumsikan mereka terlalu lelap beristirahat setelah perjalanan darat hampir dua hari sehingga tak sanggup memberi kabar di tengah malam buta. Saya dan adin memutuskan ikut rombongan mas tege ke penginapan mereka untuk bermalam. saya rasa tidak terlalu mepet menyusun koordinasi hari esok, mengingat lia, nina, dian dan mbak indri pun belum tiba di TKP. giliran flight mereka mencapai mataram masih besok pagi.

wisma nusantara I, Jl R. Suprapto Mataram 12 Mei 2012

Perorang hanya dipajekin 22 ribu/hari untuk sekedar merebahkan diri di wisma sederhana ini, ga dibatesin pulak check in-check out jam berapa. Saya mah cuman mengandalkan pendekatan personal mas tege ke pengelolanya, hehe. Pukul enam pagi seorang bapak penjaja nasi bungkus ‘mengider’ penginapan menjajakan nasi seharga 3000 perak, nasi campur dengan suiran ayam. Cukup murah meriah.

Dari sejak jelang subuh masih saja belum ada kabar dari adhi, hamzah maupun achie. entah berapa kali telepon saya berstatus missed called di handphone mereka. sampai hp adhi dan hamzah ga aktif dan ga bisa dihubungi. saya mulai panik. mulai ngerecokin nurul yang di jogja, ngerecokin rian yang di jakarta barangkali lebih ter-update kabar dari hamzah. nina dan lia yang masih di bandara juanda ikutan panik. saya dan adin blank. galau mau mencari mereka bertiga di titik terakhir menginap atau pergi berbelanja logistik untuk keperluan pendakian. saya sampai menelpon penginapan yang disinyalir menjadi tempat menginap tiga orang teman saya ini, dan menurut pengakuan pengelola, tidak ada satu pun nama mereka yang terdeteksi check in di tempat tersebut. waktu sudah lewat dari pukul delapan pagi. team mas tege sudah siap berangkat menuju sembalun. team saya masi kelabakan harus ngapain. ketika akhirnya telepon dari hamzah membuat semuanya menjadi jelas dan bernafas lega. ternyata mereka bertiga ngelencer ke trawangan. hp achie di-charge di penginapan di cakranegara, sementara di trawangan mereka membuka penginapan lagi (doh), sampai hp adhi dan hamzah habis batre karena saya teleponin ga diangkat *legaaa tapi tetep pengen kunyel-kunyel*

and then, saya dan adin (masih saja) menumpang rombongan mas tege berangkat menuju sembalun, minta diturunkan di pasar Dasan Agung buat belanja logistik. selesai belanja, adhi, hamzah dan achie menyusul kami dengan sepeda motor sewaan. dari Dasan Agung saya naik cidomo menuju penginapan, karena belanjaan kami banyaknya udah macem mo buka warung di puncak rinjani, sementara adin membonceng adhi.

lia, nina, dian dan mbak indri tiba di wisma nusantara I membawa mobil carteran dari bandara, mobil ini yang sekalian mau dicarter sampai sembalun (tarif 300 ribu/mobil untuk Mataram-Sembalun). hari sudah menjelang siang ketika team kami sudah komplit. setelah sholat dhuhur dan menjamak qhosor dhuhur dan ashar, kami berangkat menuju sembalun lawang. team dadah kali ini adalah louis and family, temen nina, tinggal di mataram dan sangat berbaik hati membekali kami dengan nasi campur berbungkus daun yang nikmat banget. perjalanan kami dari mataram menuju sembalun melewati jalan berliku, hutan, dan beberapa spot view laut dengan gili trawangan di kejauhan yang memanjakan mata.

sembalun lawang

hari sudah menjelang gelap sesampai kami di posko perijinan pendakian (RIC) sembalun. Membayar entry ticket seharga Rp. 10000,00 per pendaki, jangan lupa persiapan fotocopy KTP, sebagai gantinya, masing-masing mendapatkan tanda tiket masuk yang wajib digantungkan di tas, backpack atau apapun sebagai tanda selama pendakian.

kepala saya dilanda pusing, migrain karena dehidrasi yang terlanjur akut dari sejak di airport semalam. dalam hati saya berharap kami tidak memulai pendakian malam ini. saya butuh merebahkan kepala. beristirahat. Dan saya cukup bernafas lega ketika nina memutuskan untuk bermalam di posko. posko pendakian rinjani di sembalun (RIC sembalun) sudah mulai diberdayakan secara komersial. unit-unit homestay sengaja dibangun dan disewakan untuk para pendaki. sementara lahan untuk mendirikan tenda sudah tidak tersedia. mau tidak mau kami harus menyewa satu unit homestay untuk dipakai gelesotan rame-rame. yah, setidaknya kami sukses menghalau angin dingin karena bangunan yang permanen dan layak huni.

malam itu kami mem-packing ulang bawaan kami, bertemu dan berkoordinasi dengan dua orang bapak porter, pak zaenal dan pak yus (sewa porter Rp. 125 ribu/hari berat maksimal 23 kg, harga segitu include jobdesk porter buat masakin kita plus nyuciin property masak dan makan. logistik bapak porter ditanggung penyewa termasuk rokok). logistik kelompok seperti beras, air minum, telur, sarden, buah, sayur kami serahkan sepenuhnya kepada bapak-bapak porter. selebihnya perlengkapan pribadi masih menjadi tanggungan bawaan masing-masing personal.

ahad 13 mei 2012

hari masih gelap ketika saya dan team memulai pendakian. setelah sarapan roti dan berdoa, kami berangkat. Berjalan kaki di jalan aspal lebar yang sebenarnya masih mampu dilalui kendaraan, melewati ladang dan kebun penduduk. uniknya kebun-kebun di sini dibatasi oleh pagar bambu/ kayu yang diberi pintu untuk aksesibilitas. beberapa kali kami tersesat dan salah jalan, karena berorientasi pada arah puncak. ladang dan perkebunan masih menghiasi perjalanan kami hingga satu-dua jam ke depan. hingga jalur mulai menapaki padang rumput savana kering khas nusa tenggara dengan view bukit-bukit teletubbies menghampar di depan mata. RIC menuju pos I terasa jauh sekali. berliku, kontur jalan setapak yang naik turun, cukup landai, dan beberapa kali harus menyeberang jalur lahar dingin.

pos II tangengean

kami memutuskan untuk beristirahat agak lama di sini. memasak perbekalan dan makan siang. minum teh yang terasa sangat nikmat. achie sudah dari tadi maagnya kambuh. perutnya harus diisi nasi. kerilnya sudah bergantian di tangan hamzah dan adhi dari sejak masih di area ladang penduduk tadi. saya sudah mencoba mengeluarkan jurus pijatan untuk meringankan sakitnya. Kami sempat beramah-tamah dengan om-om yang pengen dipanggil abang (kami lupa menanyakan nama beliau). Dengan asyiknya si om meminta segelas teh dari kami. Belakangan kami sebut pak ebiet g ade karena suara beliau sangat mirip dengan penyanyi tersebut.

dari pos II kami melanjutkan perjalanan menuju pos III. masih galau antara ngecamp di pos III atau terus mencapai plawangan sembalun. sebelum pos III kami bertemu pos bayangan, berhenti sebentar untuk menjamak qhosor sholat dhuhur dan ashar. Lima menit dari pos bayangan mencapai pos III, kami berniat mengisi perbekalan air minum, tapi ternyata sumber air di pos III hanya berupa tadahan air hujan. Meng-cancel niat mengambil air minum dan segera memutuskan untuk melanjutkan  perjalanan dan berencana membuka tenda nanti sesampai di plawangan sembalun.

Sekitar pukul tiga sore hari bertolak dari pos III menuju plawangan sembalun harus melalui tujuh bukit penyesalan. Tujuh bukit yang nyiksa abis ga jemu-jemu. mengutip statement temen saya yang sebelumnya pernah mendaki rinjani, tujuh bukit penyesalan ituh seratus kali tanjakan cinta di atas ranu kumbolo menuju oro-oro ombo. and i prove it, pemirsa. Bener-bener penyiksaan luar biasa. Setiap kali selesai mendaki satu bukit akan ada bukit lain yang siap menanti didaki lebih tinggi. Rasanya seperti ga ada habisnya. Sementara tenaga semakin terkuras. Hujan dan hawa dingin melanda. Tak terasa squad saya semakin terpisah-pisah. Adhi (dengan double keril, selain keril 70 liternya dia masih bawa keril 32 liternya achie), dian, mbak indri dan lia di depan. Saya konstan jalan bareng adinda. Di belakang team sapu bersih kami ada hamzah, achie dan nina. Sesekali saya dan adin masih bisa menyusul dian dkk, bertemu rombongan haekal (teamnya haekal ada bayu, arsyan, dan dion, mereka ini sebelumnya bareng-bareng dian dan mbak indri  terdampar di bandara ngurah rai). Bayu menawari kami air putih panas. Tentu saja saya nggak kuasa nolak (baca : doyan). Di tengah cuaca dingin seperti ini, lokasi di punggung rinjani, air putih panas enaknya tiada tara.

Dian dkk plus team haekal melanjutkan perjalanan terlebih dahulu dari saya dan adin yang masih ongkang-ongkang. Terkadang kami masih saling berteriak memanggil nama teman-teman. Sekedar mengecek dan melepas frustasi karena medan berat. Di satu titik saya dan adin memutuskan untuk kembali beristirahat. Perut saya keroncongan. Maksud hati sekalian menanti rombongan terakhir kami, team sapu bersih hamzah, nina dan achie. Tapi mereka yang ditungguin ga kunjung terlihat. Dalam hati saya mulai mengkhawatirkan mereka. Sementara hawa dingin semakin menusuk, saya sempat drop karena kedinginan, seperti kehilangan segenap tenaga untuk mendaki. Saya terseok-seok di belakang adin. Butuh waktu agak lama mengembalikan tenaga saya untuk mendaki.

Hari mulai gelap. Adin ga bawa senter maupun headlamp. Saya harus berbagi satu headlamp dengan adin. Lalu tiba-tiba kami bertemu seorang mas-mas macem mulekat *tsaaaaaaahhh* si mas mulekat ini tampak sakti banget lah di mata saya karena bersandal jepit. Nek gunung beginian pake sendal jepit boooook..! saya yang bersepatu trekking (pinjeman) saja terlunta-lunta. Sepertinya si mas mulekat ga tega banget lah liat saya jalan gelap-gelapan sama adin. Jadi dia malah macem memback up saya dan adin secara suka rela gituh. Bahkan dia bagi-bagi logistiknya ke saya dan adin. Ngasi coklat segedhe gambreng, minum, meski dia tau saya bawa air minum, maksa membagi airnya buat saya. Ngobrol-ngobrol, ngakunya asli mataram, tapi baru kali ini naek rinjani. Sebelumnya cuman ndaki gunung-gunung di jawa. Naik rinjani karena nemenin temen-temennya yang pada cuti buat naik gunung. Ternyata si mas lulusan mesin ITS. Sayangnya saya lupa nanya namanya #tepokjidat. Mas mulekat sendal jepit meng-cover saya dan adin sampai puncak plawangan sembalun. Selanjutnya dia seperti hilang ditelan bumi. Saya kehilangan jejaknya selepas di plawangan ini.

Plawangan Sembalun, lepas magrib

Sesampai di plawangan sembalun, kami masih saja seperti kehilangan arah, sudah banyak tenda yang didirikan tapi entah tenda mana yang harus kami sambangin. Satu-satunya cara yang dapat kami lakukan secara primitif adalah berteriak memanggil nama teman-teman satu team yang sudah bisa dipastikan telah sampai duluan. Sahutan yang saya dapat berasal dari mbak indri. Itu pun ternyata mbak indri sedang terdampar di tenda kelompok pak joko (entah bagaimana ceritanya mbak indri begitu berjodoh dengan pak joko, sejak dari savana sembalun hingga pendakian berakhir. Siapa tokoh pak joko sebenarnya, tanya mbak indri saja ya, saya kurang paham). Saya pamitin mbak indri untuk mencoba mencari adhi (dan tenda kami tentu saja). Nanti kalau udah ketemu tenda adhi bisalah jemput mbak indri dari pungutan team pak joko, hehe.

Saya masih saja memanggil dian dan adhi. Sahutan balasan kembali saya dapatkan dari suara yang tidak saya kenal. Tapi suara ini memanggil nama saya seperti persis mengenal saya. Ternyata kang ai dari kelompok mas tege. Rasanya seperti hampir ambruk ketika mampir ke tenda mereka. Mengemis air hangat untuk penawar dingin. Team mas tege begitu berbaik hati menampung saya dan adin. Memberi tumpangan ganti baju di tenda rian karena saya sudah begitu menggigil dengan baju basah kuyup.

Beberapa saat setelah terdampar di tenda team mas tege, teriakan nama saya terdengar di bumi perkemahan plawangan sembalun, berasal dari suara nina yang baru saja mencapai bumi plawangan sembalun. Saya membalasnya tak kalah antusias. Saya ajak nina, achie, dan hamzah ‘mampir’ tenda teamnya mas tege untuk ikot membonceng minum air panas. tapi hamzah keukeuh mau lanjut ke tenda adhi dkk (hamzah disinyalir udah terserang kangen adhi akut karena beberapa jam ga ketemu #eh). Sebenernya saya ga tega ngeliat hamzah dengan ingus yang sudah meler membentuk angka sebelas di bawah lubang hidungnya, mata nanarnya yang melukiskan capek luar biasa menggotong dua keril (ternyata nina drop karena hypothermia dan ga kuat ngegendong kerilnya, otomatis hamzah yang jadi tumbalnya), segala tekanan fisik dan mental karena medan berat. Selama saya dipungut ini, Mas tege membantu mencari posisi tenda adhi, setelah ditemukan ternyata masih berjarak dua bukit dari tenda team mas tege. Ya Tuhaaaaaaaaann, memang tidak separah medan tujuh bukit penyesalan, tapi tetap saja rasanya meluluhlantakkan mental kami mendengar realita ini. Mas tege pun masih membantu kami menjemput mbak indri dari ‘binaan tenda pak joko’.

Sepeninggal hamzah dari lapak team mas tege ini, dian dari arah bukit memanggil-manggil kami ditemani haekal. Dari nada suaranya, saya bisa pastikan dian sudah cukup emosional karena kami tak kunjung muncul dan malah nyangkut di tenda team mas tege. Ah sudahlah, saya nurut saja, saya memaklumi kekmana perasaan dian dengan team yang terpencar macem gini. Kami pun berpamitan dengan team mas tege, bergegas mengikuti dian dan haekal. Melewati dua bukit, terus melewati tenda kelompok haekal sementara haekalnya masih rela terus memback up kami sampai di tenda. Mbak indri menyusul di-back up mas Tege. Senangnya ketika kami semua berkumpul tanpa kurang suatu apa. Hari sudah menjelang pukul delapan malam (atau bahkan lebih). Pak zaenal dan pak yus menyiapkan makan malam. Kami menata segala property kami. Bergegas untuk siap segala sesuatunya; makan malam dan segera beristirahat. Urusan summit attack dipikirkan nanti dulu, tunggu fisik dan mental ini agak pulih.

Di ketinggian hampir 3000 mdpl itu, hawa dingin malam terasa semakin menusuk. Hamzah, tanpa sleeping bag di ujung seberang sisi tenda dari posisi saya, meringkuk jauh dari tingkat kenyamanan.  Berbagai posisi untuk menghalau dingin sudah di-pose-kan. Sleeping Bagnya basah sepanjang perjalanan Sembalun Lawang hingga Plawangan Sembalun. Nina-Lia di sebelah hamzah terbungus satu SB berdua. Hamzah harus ngalah bergelut dengan dingin karena meski Nina – Lia sudah ‘berboncengan’ SB, SB Nina dipakai Achie karna Achie sakit sementara nasib SB Achie sama-sama basah macem SB Hamzah. Hamzah yang dikorbankan ini hanya menerima hibahan jaket double dari Dian dan Nina. Nggak tega sebenernya, sudah saya tawarkan SB saya (jaket saya tebal dan polar, sebenernya cukup minimal-di-ambang-batas-hangat untuk saya kalau harus terpaksa melepas SB), tapi Hamzah menolak “jangan mbak, nanti semakin malam semakin dingin”. Ya sudah saya hanya menatap Hamzah penuh iba. Haha.

 

Sekitar pukul 01.00 dini hari, sayup-sayup saya mendengar Hamzah ngerecokin mbak indri di tenda sebelah mengajak summit attack. Tapi sepertinya mbak indri ga punya cukup daya upaya untuk melepas kehangatan dalam tenda, memilih untuk lebih lama saving energy, dan Hamzah kembali masuk tenda dengan kondisi yang semakin gemetar memprihatinkan menahan dingin yang menusuk tulang. Kali ini saya benar-benar ga tega melihatnya kedinginan, saya paksa Hamzah nerima sleeping bag saya, sementara kaki saya yang selapis terbungkus celana panjang saya balut dengan baju-baju bersih dan mukena. Lalu saya minta dian di sebelah saya untuk menindih kaki saya supaya berada di bawah tubuhnya yang bergelung sleeping bag hangat. Saya tidur memeluk dian, mencari kehangatan.

 

14 Mei 2012

Pagi yang berkabut. Dan gerimis yang mengandung formalin (baca : awet). Berharap pagi ini bisa memandang danau segara anak dari kawasan bumi Plawangan ini. Jarak pandang masih aman tetapi view di pelupuk mata tetap putih-abu-abu yang mendominasi, membuat saya malas hunting foto, memilih tetap melungker dalem tenda. Monyet-monyet berkeliaran bandel di sekeliling perkemahan. Sekedar aware, jangan meletakkan barang berharga dan makanan di luar tenda karena akan menjadi sasaran monyet.

 

Sarapan pagi itu nasi goreng satu wajan penuh yang diabisin rame-rame. Selepas sesi sarapan, anak-anak masih saja ngerecokin pak zaenal dan pak yus, porter kami, untuk dibuatkan air panas atau teh. Team Haekal bertandang ke tenda kami (meminta jatah teh- tentu saja). Sambil melobi kami untuk diajak summit attack hari itu juga. Matahari sudah mulai benderang, tapi team saya meng-iyakan ajakan Haekal karena pertimbangan akan ada tambahan tenaga lelaki yang kemungkinan membantu mem-back up kami, para ibu-ibu pkk rempong ini.

 

Setelah acara prepare yang entah kenapa ga kunjung selesai dan sukses bikin team haekal bosen nunggu lama, kami berangkat summit. Jam tangan saya sudah menunjukkan angka di atas jam 10 pagi. Cuaca masih dingin. Kabut dan mendung silih berganti, sedikit matahari yang terkadang menyapa. Bukit pertama berhasil kami lalui, tetapi Achie sudah mulai menyerah. Sepertinya maagnya kambuh lagi. Hamzah turun nganter Achie sampai di tenda. Gawat! Jaket saya dipake Hamzah, sementara saya ga bawa raincoat (bawa sieh tapi saya tinggal di camp, agak ribet pake raincoat model ponco sambil manjat-manjat gini). Ya sudahlah. Laa haula wala quwwata illabillah. Mohon lebih banyak kekuatan dan pertolongan dari Nya. Dan ketika hujan mulai turun saya rela tetap semangat berbasah ria.

 

Kami ber tujuh melanjutkan perjalanan muncak plus Arsyan dan Bayu (teamnya Haekal). Sementara Haekal sudah jauh di depan sana, bersama rombongan pak joko yang sebelumnya ‘soulmate’ sama mbak indri. Jalan yang kami lalui berupa pasir yang siap menurunkan tubuh kami setiap kali melangkah. Hujan, kabut dan angin makin menerpa kami. Dan lagi, satu orang anggota menyerah untuk kembali ke tenda. Posisi saya kebetulan di depan, tidak tau menau tentang kemelut apa yang terjadi di belakang. Ga begitu ngerti ketika adin memutuskan menyerah dan turun diantar Dian. Saya masih terus berusaha menggapai puncak meski paham benar titik 3726 mdpl itu hanya menyisakan view kabut. Lalu Bayu dan Arsyan jugak memutuskan untuk turun. Kami pun dadah-dadah agak sedih karna ngarep di-back up malah pem-back up nya turun duluan.

 

Hujan dan angin masih saja datang bersamaan. Sekali dua awan putih dan langit biru tersibak, tetapi hanya dalam hitungan detik sudah menghilang. Kami sudah beberapa puluh meter lebih tinggi dari titik dimana Adin memutuskan turun, saat mbak indri memanggil saya turun dari posisi saya untuk berkoordinasi (fyi, kalau kita nek gunung, dan udah sedikit lebih tinggi posisi kita dari pada temen kita, kalau disuruh balik lagi, adeuwh! Perjuangan yang selangkah-dua langkah itu rasanya berhargaaaaa sekali). Jadi menurut mbak indri sebaiknya kita semua sebaiknya turun saja karena cuaca emang ga memungkinkan kami untuk mencapai puncak. Apalagi dengan squad 1 cowok mem-back up 4 cewek (baca : ibu-ibu PKK rempong). Rasanya saya seperti ingin ga terima. Sedih rasanya dengan pengorbanan baju basah kuyup ini, semangat muncak masih penuh, tenaga masih cukup kuat untuk mendaki. Ingin rasanya bilang tidak. Tapi saya cukup paham dengan apa yang dinamakan keputusan bersama.

 

Lalu tiba-tiba hamzah datang menyusul kami. Semua jadi ngerasa bersalah mesti turun sementara hamzah malah mau muncak. Saya rasanya seperti mendapat secercah harapan. Sebenernya hamzah nyusul lagi karena dia mau anter jaket saya, lalu berencana balik turun lagi. Tapi Hamzah sepertinya ga tega ngeliat kilatan semangat dari mata saya yang memohon untuk diback up *halah*. Masalahnya kalau saya maksa naik sendirian juga siapa yang ngijinin kan ya. Jadi team kami sekali lagi harus terpisah. Saya dan Hamzah masih mencoba lanjut (maaf yaa pemirsa, saya egois), Adhi, nina, mbak indri, lia memutuskan turun. Logistik dan air dibagi dua, tidak lupa membawa serta list nama teman-teman yang (rencananya) mau difotoin di titik tertinggi bernama Dewi Anjani ituh.

 

Sepeninggal teman-teman, badai masih saja tak kunjung menghilang. Kami sudah sampai di trek batu-batu hitam kecil setelah trek pasir yang panjang. Bongkah-bongkah batu besar berserakan di beberapa titik. Sempat dua kali puncak tampak tersibak di depan mata saya beberapa detik, lalu kembali kabut merenggutnya dari pandangan saya. Saya dan Hamzah beberapa kali berbalik langkah untuk berlindung dari badai di balik batu. Terakhir kali kami berteduh, hamzah sudah menggigil kedinginan. Dan saya cukup tau diri untuk menyudahi ambisi muncak karena pertimbangan safety first. Saya putuskan untuk turun kali ini, meninggalkan angka tiga tujuh dua enam yang belum sempat teraih. Di antara jalur berpasir macem perosotan ini, saya  masih terus  menangis, melepas mimpi.